Senin , 20 Nop 2017

 

KOMANDAN PUSDIKARHANUD

 

 

 

 

 

 

 

Kolonel Arh Rikas Hidayatullah


PUSDIKARHANUD

Pusdikarhanud PO BOX 59 Malang Jawa Timur Indonesia Tlp. (0341)461577

email redaksi  p[email protected] atau [email protected]

Contact Us


Profil Satuan


Info

Info Pendidikan

Jadwal Piket Admin

Kode Mata Kuliah

Transformasi Spiritual


 


DEPARTEMEN TAKTIK DAN STAF PUSDIKARHANUD

MENDESAINSISTEM KENDALI TEMBAK MERIAM 57 MM S 60 T. AKT

MENGGUNAKAN SURVEILANCE RADAR RAPIER UNTUK MEMPERKUAT GELAR HANUD

 

 

Pendahuluan

 

Saat ini, TNI AD terus mengembangkan kekuatan dengan pengadaan bermacam Alutsista baru. Termasuk satuan Arhanud, sistem senjatanya juga diperkuat agar dapat kuat dalam gelar pertahanan udara (Hanud). Perkembangan ini menggembirakan, namun mulai berkembang image‘menggudangkan’ Alutsista Hanud lama. Harusnya tidak demikian, meskipun sudah ada yang baru, Alutsista lama harus tetap digunakan untuk memperoleh kepadatan tembakan saat gelar Hanud. Contoh yang dapat ditiru adalah India, korp Arhanud negara ini terkenal kuat pertahanan udaranya dan mereka masih tetap menggelar Meriam 40 mm L 70, meriam lama seperti yang dimiliki Arhanud TNI AD. Untuk Hanud, Indian Army Air Defence menggelar Rudal Shilka, Strela, Tunguska, yang terbaru Rudal jarak sedang Akash[1], Meriam 23 mm Zur dan Meriam 40 mm L 70[2].

                   Meriam 57 mm S 60 T. AKT

Meriam buatan Rusia ini terpelihara dengan baik, sparepart diproduksi sendiri untuk proses pemeliharaan sehingga seluruh meriammasih berfungsi dengan baik. Ini sebagai pembanding bahwa Alutsista lama seperti Meriam 57 mm S 60/T. AKT (Tanpa Alat Kendali Tembak) juga harus tetap dioperasionalkanuntuk memperkuat gelar Hanud. Dengan keterbatasan anggaran, proses peremajaan Alutsista untuk memenuhi seluruh satuan Arhanuddiperkirakan akan memakan waktu yang lama, sementara ancaman udara bisa datang kapan saja.

 

Latar belakang

Salah satu yang membuat fungsi Meriam 57 mm S-60 T. AKT menurun adalah tidak dilengkapi dengan sistem kendali tembak. Alat kendali tembak Puazo dan radar Son 9 sudah menjadi ‘besi tua’ sejak tahun 1980 an. Tanpa peralatan tersebut, Meriam seperti mati suri karena dengan kecanggihan pesawat saat ini operator meriam bisa tidak berkutik jika mengandalkan melihat sasaran secara visual. Operator akan kesulitan melakukan proses penjejakan sampai dengan penembakan sasaran.Alat kendali tembak pada Alutsista Hanud mempunyai peran yang sangat vital. Tanpa alat itu, waktu reaksi operator Meriam saat ada sasaran udara jadi singkat, tidak bisa menembak seawal mungkin dan prosentase perkenaan menjadi rendah. Dari data material, di 4 Detasemen Arhanud terdapat Alutsista Rudal Rapier yang sudah tidak operasional dan tidak ada rencana untuk relifing. Ada peralatan yang bisa didesain oleh tehnisi menjadi alat kendali tembak Meriam 57 mm S 60 T. AKT yaitu SurveilanceRadar Rapier (SRR). JumlahSRR yang dimiliki TNI AD kurang lebih sekitar 50 unit, jika 1 Baterai dilengkapi dengan 3 unit SRR maka dapat mengefektifkan penggelaran Sista Meriam 57 mm S 60 T. AKT untuk 16 Baterai.

Dalam Hanud,perlu digelar senjata yang beragam (komposit) untuk saling menutupi kelemahan satu dengan yang lain dari senjata yang digelar, salah satunya Alutsista Rudal digelar komposit denganmeriam. Sistem kendali panas (fire and forget) dan kendali laser (laser guide) merupakan keunggulan beberapa Sista Rudal, termasuk pada sistem Rudal Mistral dan Starstreak[3]. Namun demikian, dalam menangkis serangan udara Sista meriam masih tetap diperlukan karena ada bataskemampuan Sista Rudal. Sista Rudal sulit digunakan untuk sasaran jarak dekat karena sistem kendalinya baru efektif setelah mencapai jarak tertentu (+1000 - 2000 m, proses aktivasi sistem). Untuk menutupi kelemahan ini diperlukan komposit Sista Meriam karena taburan proyektil meriam dapat menghancurkan serangan udara jarak dekat yang datang. Hal ini mendasari pemikiran untuk mengoptimalkan fungsi Meriam 57 mm 60/T. AKT karena secara umum meriam masih berfungsi dengan baik, dari sejumlah 188 pucuk terdapat 125 pucuk dengan kondisi baik, 54 pucuk kondisi rusak ringan dan 9 pucuk kondisi rusak berat[4], tergelar di satuan Yon Arhanudse[5].

 

 

            Rudal Rapier,                                       Puazo                                         Radar Son 9

  SRR berada dalam kubah                        

 


Meriam 57 mm 60 tanpa alat kendali tembak

Sejak sistem kendali tembak rusak, pelaksanaan latihan dan penembakan sasaran dilakukan secara visual. Saat pemberitaan sasaran dari Posko Baterai[6], Operator meriam hanya mengandalkan arah mata angin dari abjad A sampai dengan P yang membagi azimut (sudut putar) 360°. Sesuai aba-aba Komandan Pucuk, sebagai contoh ‘arahkan arah Cepu” maka operator akan memutar tangkai azimut meriam mengarahkan laras meriam searah patok arah C (Cepu) untuk menyambut datangnya pesawat. Semua dilakukan dengan perkiraan karena secara visual sasaran belum kelihatan. Operator hanya mengantisipasi dengan mengarahkan laras meriam untuk menyambut sasaran yang datang langsung mulai sudut -5° dan mengikuti sudut elevasi (sudut tinggi dan rendah) sampai dengan 87°. Sedangkan saat sasaran melintas, laras meriam menyambut sasaran mulai sudut 45° dan selanjutnya mengikuti lintasan sasaran baik ke kiri atau kanan setelah tracking. Proses ini tidak mudahdihadapkan dengan kecepatan pesawat generasi sekarang. Ibarat duel ‘satu lawan satu’ dengan pesawat yang sudah tracking posisi meriam, operator meriam pasti akan kalah cepat. Operator akan kesulitan melakukan proses penjejakan sampai dengan penembakan sasaran, waktu reaksi sangat sempit, operator meriam akan tergesa-gesa, belum tepat sasaran pedal tembak akan diinjak dan otomatis prosentase perkenaan rendah. Sebagai ilustrasi jika dihitung dengan angka-angka seperti ini :

  • Jika Satuan tembak (Satbak)[7]Meriam 57 mm S 60 tidak menggunakan alat kendali tembak maka awak Meriam baru dapat melihat sasaran secara visual diperkirakan pada jarak 5,5 Km, kemudian Satbak mulai menjejakinya (waktu reaksi) memakan waktu +15 detik dan secara perhitungan mulai dapat menembak pada jarak 2,5 Km dari posisi Meriam.

Perkiraan melihat sasaran secara visual pada jarak 5,5 Km adalah bila menggunakan alat bantu Optik, namun masih belum pasti terlihat bila dihadapkan dengan kecepatan pesawat dan kondisi medan (lapangan tinjau) yang tidak terbuka penuh. Dan, waktu reaksi 15 detik dihitung singkat untuk mengerjakan proses melihat sasaran, mengepaskan sudut laras meriam sampai dengan tracking. Jika sasaran terlihat kurang dari 5,5 Km, maka yang terjadi operator akan lebih terdadak karena sasaran sudah semakin dekat.

  • Dari asumsi perhitungan tersebut diatas, perkenaan peluru terhadap sasaran secara efektif mulai dari jarak 800 m sampai dengan 2 Km dari posisi meriam[8] sehingga waktu menembak hanya sempat selama ± 5 detik.
  • Dengan kecepatan menembak 2 butir/detik, maka 1 meriam hanya menembak 10 butir, efektivitas perkenaan terhadap sasaran adalah sebagai berikut :
    • 1 meriam menembakan 2 peluru per detik,
    • 1 Satbak terdiri dari 4 Meriam,
    • Maka 2 Satbak, mampu menembak 5 detik x 8 meriam x 2 Peluru = 80 butir
  • Dengan asumsi, setiap hamburan (kepadatan tembakan) 400 butir peluru, kemungkinan 1 butir mengenai 1 pesawat, maka prosentase perkenaan terhadap sasaran kurang lebih hanya sekitar 20 %.

 

Visualisasi penembakan meriam tanpa alat kendali tembak

 

Desain alat kendali tembak dengan memodifikasi SRR

Untuk mengatasi kesulitan tersebut, perlu sebuah sistem kendali tembak, paling tidak menyerupai sistem kerja alat aslinya yaitu alat kendali tembak Puazo dan radar Son 9. Dengan kondisi Sista Arhanud yang tersedia saat ini, maka menggabungkan sebagian peralatan dari suatu sistem dengan bagian peralatan dari sistem lain dapat menjadi solusi di tengah keterbatasan dana. Modifikasi SurveilanceRadar Rapier (SRR), TDR/RLD[9]dan Sista 57 mm S-60T. AKT dengan beberapa alat tambahan memungkinkan untuk dilaksanakan. Modifikasi merupakan salah satu alternatif untuk meningkatkan efektivitas Sista Meriam 57 mm S-60 T. AKTdan memperpanjang usia pakai. Dengan sistem ini, diharapkan operator akan lebih mudah dalam proses penembakan sasaran, mempunyai waktu reaksi yang cukup, bisa lebih awal menembak sasaran serta menambah prosentase perkenaan terhadap sasaran.

Sistem dibangun dengan memanfaatkan peralatan yang tersedia dan menggabungkannya menjadi sebuah sistem baru. Peralatan yang dibutuhkan adalah:SurveilanceRadar Rapier(SRR), Meriam 57 mm S60 T.AKT, TDR/RLD, Interface(alat tambahan pada Surveilance Radar), Synchro(alat tambahan pada Meriam 57 mm S 60 T. AKT) dan Headset(untuk Danpu dan Awak Azimuth).Fungsidari tiap-tiap peralatan adalah :

  • SurveilanceRadar Rapier(SRR) berfungsi untuk mencari dan menemukan sasaran denganjangkauan sampai dengan radius 12 Km.
  • Meriam 57 mm S-60 T. AKT berfungsi untuk menembak dan menghancurkan sasaran yang telah tracking /dijejaki.
  • TDR/RLD berfungsi sebagai alat untuk memproses data sasaran, menunjukkan arah sasaran serta mengontrol waktu penembakan.
  • Interface berfungsi untuk mensinkronkan data output dari radar agar bisa dibaca oleh peralatan TDR/RLD
  • Synchro berfungsi sebagai alat elektro mekanik untuk mengetahui arah meriam.
  • Headset berfungsi untuk mendengarkan bunyi alarm dan tone bahwa arah laras meriam sudah tepat pada sasaran.

Alat peralatan disusun sesuai konfigurasi agar berfungsi optimal saat gelar Hanud. Konfigurasiyang dibutuhkan dalam 1 satuan tembak terdiri dari :1 (Satu) SurveilanceRadar Rapier, 4 (Empat) Meriam 57 mm S-60 T. AKT, 4 (Empat) TDR/RLD, 1 (Satu) interface, 4 (Empat) Synchrodan 8 (Delapan) headset.

 

 

                        Gambar alat peralatan                                        Konfigurasi alat peralatan

 

Prinsip kerja alat kendali tembak saat proses penembakan sasaran udara dijelaskan sebagai berikut :

  • Surveilance Radar Rapier (SRR) mencari dan mendeteksi sasaran sampai dengan radius ± 12 Km, data sasaran berupa Azimut dan Elevasi disinkronkan oleh interface(agar output data dari SRR dapat dibaca oleh TDR/RLD), selanjutnyadata sasaran yang sudah disinkrokan dan dispesifikasi teknisdikirim ke TDR/RLD.
  • TDR/RLD menerima data sasaran dari SRR berupa posisi sasaran (koordinat),speed dan distance (terhadap Radar).Data tersebut secara serentak dihitung dan dikonversi oleh komputer dengan dataposisi meriam untuk mendapatkan data dan petunjuk tentang sasaran dalam azimut.
  • Data posisi meriam diterima oleh TDR/RLD dari Synchro yang berada di meriam didasarkan pada perputaran azimut meriam. Data hasil perhitungan dan konversitersebut kemudian ditampilkan melalui displayyang terdapat pada panel bagian depan TDR/RLD berupa bearing, distance, first time and last time, Threatno, Des, Altitude, Cross distance, Course, Speed danHold fire kemudian menyebabkan bunyi alarm pada TDR/RLD, headset Komandan pucuk serta oleh awak azimut meriam.
  • Setelah Komandan pucuk mendengar alarm, selanjutnyamemerintahkan awak azimut untuk mencari sasaran dengan mengarahkan meriam sesuai data suara pada headset. Bunyi tone dengan suara rendah mengartikan bahwa arah laras meriam terlalu ke kiri dari posisi sasaran, suara tinggi berarti arah laras meriam terlalu ke kanan dari posisi sasaran. Sedangkan suara spesifik (ting tone)menunjukan bahwa arah laras Meriam sudah tepat pada posisi sasaran. Setelah awak azimut menemukan arah sasaran dengan tingtone tersebut, awak elevasi menggerakkan elevasi meriam untuk menemukan sasaran secara visual melalui kolimator alat bidiknya.
  • Segera setelah secara visual sasaran dapat dilihat oleh awak azimut dan elevasi, kedua awaktersebut kemudian menjejakinya sampai dengan ada perintah tembak dari Komandan Pucuk.
  • Komandan Pucuk menentukan saat menembak dengan melihat display TDR/TDR bila lampu tanda first time menyala yang berarti berdasarkan perhitungan TDR/RLDbahwa bila peluru ditembakkan saat itu maka akan bertemu sasaran di posisi kelak tepat yaitu pada jarak 6000 m.
  • Data sasaran dari radar terus diperbaharui demikian juga dengan data posisi arah meriam sehingga dalam perhitungan TDR/RLD saat dimana peluru meriam dan sasaran sudah tidak dapat bertemu lagi maka lampu last time pada display akan menyala, sehingga Komandan Pucuk bisa memerintahkan untuk menghentikantembakan.

 

Meriam 57 mm 60 dengan alat kendali tembak modifikasi

Dengan sistem kendali tembak seperti ini, bisa menambah akurasi perkenaan karena operator terbantu dari segi waktu. Setelah operator memasang laras meriam ke arah yang di aba-abakan Komandan pucuk, operator akan meraba ketepatan arah laras sesuai dengan tone dari alat peralatan. Jika secara manual proses dimulai dari radius 5,5 Km, dengan sistem ini proses sudah bisa dimulai dari radius 12 Km dari posisi gelar meriam. Dari aspek tehnis dan taktis sudah jelas menguntungkan karena bertambahnya waktu reaksi bagi operator. Diasumsikan dengan angka-angka akan ketemu perhitungan sebagai berikut :

  • Diasumsikan sasaran udara bergerak dengan Kecepatan 200 m/detik dan ditangkap oleh Surveilance Radar Rapier (SRR) yang bekerja dengan radius jangkauan 12 Km. Saat sasaran tertangkap oleh SRR, tanda peringatan (alarm) berbunyi secara otomatis pada beberapa peralatan yaitu TDR/RLD, headset Danpu dan awak azimut.
  • Komandan pucuk melihat display TDR/RLD selanjutnya segera memerintahkan Awak Azimuth mengarahkan meriam. Proses ini diperkirakan memakan waktu + 3 detik sejak alarm mulai berbunyi.
  • Dengan menggunakan sistem ini, Operator Meriam mulai menjejaki sasaran dengan waktu penjejakan yang relatif lama yaitu + 15 detik dari mulai sasaran berada pada jarak 60 Km sampai dengan jarak 8,5 Km.
  • TDR/RLD akan mengkalkulasi data dan kecepatan sasaran udara serta lintasan terbang peluru. Sesuai setting elektrik pada sistem maka pada jarak 8,5 Km Meriam sudah dapat mulai menembak (first time) dan diharapkan pada jarak 6 Km dari posisi meriam, Sasaran udara dan peluru dapat bertumbukan (impact).
  • Karena keterbatasan kemampuan Meriam tidak dapat menembak sasaran yang berada tepat diatas posisi sasaran (Radius daerah mati) maka pertemuan peluru dan sasaran diasumsikan hanya sampai pada jarak 800 m dari posisi Meriam.
  • Dari perhitungan tersebut diatas, perkenaan peluru terhadap sasaran secara efektif dihitung dari mulai dari jarak 800 m sampai dengan 6 Km sehingga pertama kali meriam menembak (first time) sebelum jarak 6 Km dan terakhir meriam menembak (last time) sebelum jarak 800 m. Dari mulai first time sampai dengan last time diperoleh perhitungan waktu menembak ± 17,5 detik.
  • Dengan kecepatan menembak Meriam 57 mm S 60 T. AKT adalah 2 butir /detik, maka 1 pucuk Meriam mampu melepaskan peluru sebanyak 35 butir. Maka efektivitas perkenaan terhadap sasaran adalah sebagai berikut :
    • 1 Meriam menembakan 2 butir peluru per detik,
    • 1 Satbak terdiri dari 4 Meriam,
    • 2 Satbak, mampu menembak adalah 17,5 det X 8 Mer X 2 Peluru = 280 butir[10].
  • Perhitungan tersebut diatas diperoleh dari 2 Satbak saja, bila Satbak lain yang berdekatan dengan 2 Satbak tersebut dapat menembak meskipun hanya dalam waktu yang lebih sedikit, maka efektivitasperkenaan terhadap sasaran bisa lebih dari 70 %.

 

 

 

Visualisasi tembakan meriam dengan sistem kendali tembak sesuai konfigurasi

 

 Penutup

Untuk memperoleh gelar Hanud yang kuat, penggunaan Alutsista Hanud yang baru mutlak diperlukan didukung oleh Alutsista lama yang ditingkatkan fungsinya. Semakin banyak Alutsista yang digelar maka akan semakin padat hamburan peluru di udara dan akan saling menutupi kelemahan satu dengan yang lainnya. Meriam 57 mm S 60 yang tergelar cukup banyak di satuan Arhanud perlu dioptimalkan untuk mencegah ancaman udara. Menggabungkan sebagian peralatan dari suatu sistem dengan bagian peralatan dari sistem lain dapat menjadi solusi di tengah keterbatasan dana, sambil menunggu pengadaan Alutsista baru. Modifikasi SurveilanceRadar Rapier (SRR) menjadi sistem kendali tembak Sista Mer 57 mm S60 T. AKT dapat menambah efektivitas serangan dan memperkuat gelar Hanud.

 

                                                                                                                   Departemen Taktik dan Staf

                                                                                                                 Pusdikarhanud Pussenarhanud



[1]Rudal Akash, buatan industri pertahanan dalam negeri, jarak jangkau sampai dengan radius 25 Km.

[2]Laporan pelaksanaan PEP di Indian Army Air Defence College, tahun 2015.

[3] Rudal Mistral (buatan Perancis)dan Rudal Starstreak (buatan Inggris) merupakan Alutsista Hanud terbaru Arhanud TNI AD.

[4] Laporan bulanan Dohar Sista Arhanud Pussenarhanud Kodiklat TNI AD, bulan Juni 2015.

[5] Arhanud TNI AD memiliki 8 satuan Yon Arhandse, Alutsista yang digunakan Meriam 57 mm S 60/T. AKT dan Meriam 57 mm S 60 Retrofit. (1 Yon terdiri dari 3 Baterai tempur dan jumlah meriam 1 Baterai adalah 12 Pucuk)

[6]Posko Baterai menerima sasaran dari Kosek Hanudnas, dengan alat bantu papan Berita sasaran. Lingkaran jarak pada papan berfungsi memantau gerak pesawat mulai radius 100 Km  secara terus menerus  dan pada radius 60 Km meng-aba Satbak untuk mengarahkan laras meriam ke arah datangnya sasaran.

[7] Satuan tembak adalah alat penghancur yang terdiri dari meriam/Rudal beserta alat kendali tembaknya, berada dalam 1 posisi gelar dan secara serentak dalam melaksanakan penembakan sasaran.

[8] Batas kemampuan meriam, tidak dapat menembak sasaran yang berada tepat diatas posisi meriam (Radius daerah mati) maka pertemuan peluru dan sasaran diasumsikan hanya sampai pada jarak 800 m dari posisi meriam.

[9]TDR (Target Data Receiver) dan RLD (Remotely located Display) adalah sistem penerima data/sasaran pada radar Giraffe (R. Giraffe buatan Swedia merupakan salah satu radar yang dioperasionalkan oleh satuan Arhanud TNI AD sebagai local warning)

[10]Sesuai dasar penyusunan Hanud, salah satunya Alutsista digelar untuk saling bantu. Dari posisi gelar tersebut sasaran dapat ditembak minimal oleh 2 Satbak.

 


 

ARTIKEL LAINNYA

     -  Army Leadership
     -  DEPARTEMEN SISTIM SENJATA PUSDIKARHANUD
     -  Essy
     -  MENDESAINSISTEM KENDALI TEMBAK MERIAM 57 MM S 60 T. AKT MENGGUNAKAN SURVEILANCE RADAR RAPIER UNTUK M
     -  MENDESAINSISTEM KENDALI TEMBAK MERIAM 57 MM S 60 T. AKT MENGGUNAKAN SURVEILANCE RADAR RAPIER UNTUK M
     -  LAPORAN PENDIDIKAN S-2 JURUSAN MANAJEMEN PERTAHANAN DI UNIVERSITAS PERTAHANAN INDONESIA TA 2011-2013
     -  PAT TILLMAN dan PAK DIRMAN (serta Mak Eroh)
     -  Karangan Militer
     -  9 LANGKAH MENUJU SIKAP MENTAL POSITIF
     -  MALAIKAT KECILKU
     -  IT , INOVASI BAGI DUNIA PENDIDIKAN
     -  UNTUK MU TUHANKU
     -  MENGUKUR TINGKAT KEMATANGAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK INSTITUSI PENDIDIKAN




 

KOMANDAN KODIKLAT TNI AD

Letjen TNI Agus Kriswanto


English Corner

Battle of Goose Green

The Use of Air Defense Weapon System

Culture Of Indonesia:As a Consideration in Company Level Operation


Link Kodiklat


Statistik


  Visitors :786284 Org
  Today : 234 Users
  Month : 1621 Users
  Online : 3 Users
  Hits : 1948117 hits


Gallery



penghijauan


 
Copyright © 2010   Pusdikarhanud.mil.id - Pusdikarhanud . Design by e.web.id