Senin , 20 Nop 2017

 

KOMANDAN PUSDIKARHANUD

 

 

 

 

 

 

 

Kolonel Arh Rikas Hidayatullah


PUSDIKARHANUD

Pusdikarhanud PO BOX 59 Malang Jawa Timur Indonesia Tlp. (0341)461577

email redaksi  p[email protected] atau [email protected]

Contact Us


Profil Satuan


Info

Info Pendidikan

Jadwal Piket Admin

Kode Mata Kuliah

Transformasi Spiritual


 


Essy

KEGIATAN PEMBINAAN MATERIIL ALUT PADA SISTA ARHANUD

AKAN MAMPU MEWUJUDKAN KESIAPAN SATUAN

DALAM MELAKSANAKAN TUGAS POKOK

 

Pendahuluan

 

            Pembangunan Alutsista TNI merupakan hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi selain untuk menunjang keberhasilan operasi dan latihan TNI hal ini guna menunjang efek deterrent dan mendukung kebijakan pembangunan strategy pertahanan negara. Konsep strategi pengerahan kekuatan Alutsista wajib dipandang dari sudut pandang yang luas dan bukan hanya sekedar konsep sektoral yang terfokus ke tiap-tiap matra, melainkan harus dapat mendukung suatu konsep operasi gabungan (joint force operation) dimana tiap sektor harus mampu mengefektifkan menunjang satu sama lain hingga seluruh sumber daya yang dimiliki dapat digunakan dengan efektif, efisien dan tepat sasaran. Bahkan apabila diperlukan TNI juga harus bisa melaksanakan operasi yang menuntut sinergi dengan lembaga dan kementrian terkait.

 

Dihadapkan dengan prediksi ancaman pada jangka menengah yang paling mungkin, baik ancaman dari dalam negeri maupun dari luar negeri. TNI Angkatan Darat sebagai salah satu pilar pertahanan matra darat menyusun suatu kebijakan strategis pembinaan kekuatan, kemampuan dan gelar TNI AD tahun 2010 – 2014 guna melanjutkan rencana strategis tahun 2005 – 2009 yang belum terealisasi dan juga untuk merealisasikan rencana strategis ke dua pada postur TNI AD tahun 2005 – 2024.  Salah satu kebijakan pembinaan kemampuan TNI AD tersebut adalah dengan pembinaan kemampuan tempur yang diantaranya adalah pembinaan kemampuan pertahanan udara terbatas, yaitu kemampuan untuk menyelenggarakan pertahanan udara secara terbatas dalam rangka melindungi instalasi strategis dari kemungkinan ancamana serangan udara.

 

            Hal menarik yang perlu kita cermati pada pembinaan kemampuan tempur khususnya tentang kemampuan menyelenggarakan pertahanan udara ini adalah kata “ terbatas “. Kata “ terbatas “ tersebut salah satunya dipengaruhi realitas dari kondisi alut sista Arhanud TNI AD yang ada pada saat ini.  Sebagian besar masih merupakan alut sista yang menggunakan tehnologi era tahun 60’ an dan sudah sangat tidak sesuai untuk digunakan menghadapi perkembangan tehnologi ancaman serangan udara pada saat ini.  Kondisi ini salah satunya dipengaruhi oleh faktor keterbatasan dukungan anggaran negara untuk peningkatan kemampuan pertahanan negara pada setiap tahunnya yang masih sangat jauh dari memadai untuk menciptakan kekuatan pertahanan negara yang ideal termasuk diantaranya peningkatan kemampuan pertahanan udara yang membutuhkan biaya sangat besar baik dari segi pengadaan alut sista yang baru hingga biaya pemeliharaannya.

 

            Komandan Satuan Arhanud sebagai salah satu leader dalam menyiapkan satuan arhanud yang berfungsi sebagai “ first line of defense “ dalam pelaksanaan pertempuran, harus mampu berpikir dan bekerja keras dan cerdas untuk memecahkan permasalahan alut sista tersebut yang salah satunya adalah dengan cara mengoptimalkan pembinaan materiil khususnya alut sista Arhanud yang ada di satuannya.  Pembinaan materiil khususnya alut sista di satuan – satuan Arhanud merupakan hal mutlak yang harus dilaksanakan karena tanpa pembinaan materiil dan alut sista yang baik maka prajurit Arhanud akan kehilangan kepercayaannya terhadap alut sista yang diawakinya. Pembinaan materiil dan alut sista yang baik meningkatkan kesiapan operasional alut sista Arhanud.

 

Latar Belakang Pemikiran dan Arah Kebijakan Stratetegis TNI AD.

 

            Bila kita mempelajari buku tentang artileri pertahanan udara yang dimiliki oleh negara – negara maju disana dijelaskan bahwa ada tujuh elemen penting yang perlu diperhatikan untuk dapat memenangkan suatu peperangan. Tujuh elemen tersebut adalah Intelijen, Manuver, Bantuan Tembakan, Pertahanan Udara, Mobilitas/Ketahanan, Dukungan Pertempuran serta Komando dan Pengendalian. Kemampuan dalam melaksanakan Pertahanan Udara merupkan salah satu elemen dari ketujuh elemen tersebut atau dengan kata lain dapat dijelaskan bahwa dalam rangka menunjang keberhasilan pelaksanaan suatu operasi pertempuran pertahanan udara sangatlah dibutuhkan, hal tersebut tentu bukan suatu hal yang aneh apalagi bila kita hadapkan dengan konsep fourth generation warfare  dimana ancaman udara yang menggunakan konsep 4 GW tersebut  tidak lagi berupa pesawat atau helikopter militer konvensional saja akan tetapi dapat berupa berbagai macam wahana udara baik yang berupa peluru kendali, pesawat tak berawak, pesawat  kecil dengan cross radar section yang kecil serta dapat diluncurkan dari lapangan udara kecil atau yang lebih kita kenal dengan air strip, dan yang perlu kita ketahui Indonesia memiliki banyak sekali air strip yang tersebar bai untuk pesawat ataupun helikopter

 

            Selain hal diatas pelaksanaan pembinaan materiil dan alut sista Arhanud dalam rangka meningkatkan kesiapan operasional juga bertujuan untuk merealisasikan sasaran rencana strategis kedua TNI AD tahun 2005 – 2024 salah satu kebijakan yang dikeluarkan oleh pimpinan TNI AD adalah melaksanakan pembinaan kemampuan TNI AD dengan melaksanakan peningkatan kemampuan tempur diantaranya adalah menciptakan peningkatan kemampuan pertahanan udara secara terbatas dalam rangka melindungi instalasi strategis dari kemungkinan ancaman serangan udara lawan, kebijakan peningkatan kemampuan tempur ini didukung pula dengan dengan kebijakan peningkatan dukungan baik dibidang materiil dan alut sista serta sumber daya manusia. 

 

Salah satu rumusan yang telah ditetapkan dalam hal pengadaan materiil dan alut sista adalah mengupayakan semaksimal mungkin pengadaan alut sista mengacu kepada standarisasi, spesifikasi tehnis dan syarat – syarat operasional alut sista TNI AD.  Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pembinaan materiil, fasilitas dan jasa dalam pengoperasian, pemeliharaan dan perbaikan.  Selain itu dalam kebijakan pembinaan kekuatan melalui dukungan materiil atau alut sista ini pimpinan TNI AD juga menegaskan agar pembinaan materiil dan alut sista diutamakan berasal dari produk dalam negeri yang memenuhi standar dan tehnologi dalam rangka menjamin kesiapsiagaan operasional yang mendukung kekuatan, kemampuan dan gelar TNI AD.

 

Dalam penyampaian kebijakan strategis,  Pimpinan TNI AD juga memprioritaskan tentang perlunya peningkatan kemampuan penguasaan perkembangan tehnologi industri militer yang ditujukan guna terwujudnya ; Peningkatan kemampuan sumber daya manusia dalam bidang tehnologi pertahanan melalui kerjasama dengan perguruan tinggi, Penyelengaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia yang berkaitan dengan isdustri pertahanan, Kerjasama penelitian dan pengembangan serta pertukaran informasi ilmiah tehnologi pertahanan dengan institusi Litbang di luar TNI AD, perguruan tinggi maupun BUMNIS, Peningkatan kemampuan sumber daya manusia personel TNI AD agar dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan tehnologi sesuai dengan tuntutan kebutuhan TNI AD di bidang organisasi, materiil maupun sistem dan metode serta, Pemberdayaan produk industri strategis dalam negeri guna memenuhi kebutuhan alut sista TNI AD dalam rangka mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.

 

Beberapa kebijakan yang telah ditegaskan oleh Pimpinan TNI AD sebagaimana telah kami uraikan diatas dapat digunakan oleh para Komandan Satuan Arhanud TNI AD sebagai landasan didalam melaksanakan pembinaan materiil serta alut sista Arhanud sehingga matriil dan alut sista Arhanud yang ada pada saat ini tetap memiliki kesiapan operasional yang tinggi.

 

Kondisi Alut Sista Arhanud Saat Ini

 

            Alut sista Arhanud adalah suatu alut sista yang terdiri dari berbagai macam sistem yang cukup komplek dan satu sama lain saling berhubungan, bila terjadi kerusakan pada salah satu sistem maka dapat dipastikan bahwa sistem yang lain tidak dapat bekerja secara maksimal,  oleh karenanya dibutuhkan suatu kegiatan yang harus dilaksanakan secara cermat dan teliti, mulai dari tahap awal pengadaan, pemeliharaan, operasional hingga penyimpanan. Kondisi yang dapat kita lihat pada saat ini hampir sebagian besar materiil alut sista Arhanud yang dimiliki oleh satuan Arhanud TNI AD berada pada kondisi yang sangat memprihatinkan baik karena alut sistanya yang memang sudah tua, dukungan pemeliharaan yang sangat terbatas hingga terbatasnya tenaga ahli yang memiliki kemampuan dalam memelihara alut sista Arhanud.

 

            Kondisi faktual pertama adalah kondisi alut sista Arhanud sebagian besar sudah cukup tua.  Dengan kondisi fisik yang cukup tua membuat mekanisme penunjang bekerjanya alat  tersebut  lambat laun menjadi berkurang, sebagai contoh kondisi alat pengungkit meriam yang berfungsi untuk menaikturunkan meriam dari posisi sikap angkut ke sikap tempur atau sebaliknya, saat ini kondisi mekanisme alat tersebut sudah tidak dapat bekerja secara sempurna karena sering digunakan untuk menaikturunkan meriam dengan beban fisik meriam secara keseluruhan yang cukup berat  Agar alat tersebut dapat  bekerja lagi secara sempurna tentunya dibutuhkan penggantian mekanisme yang ada didalamnya dan hal ini menimbulkan permasalahan baru diantaranya adalah spare part untuk alat tersebut sudah tidak ada karena pabrik dimana spare part alut sista tersebut dibuat sudah tidak memproduksi lagi, permasalahan yang mungkin timbul adalah kalaupun pabrik tersebut masih memproduksi dibutuhkan rantai mekanisme dan birokrasi yang cukup panjang hingga sistem alat tersebut dapat diganti dan dipergunakan kembali.

 

            Kondisi berikutnya adalah banyaknya alut sista yang mengalami kerusakan karena terbatas dukungan dalam hal pemeliharaan baik spare part  ataupu peralatan pemeliharaan, terbatasnya dukungan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah keterbatasan anggaran yang dimiliki oleh negara pada saat akan membeli alut sista arhanud yang baru.  Dengan keterbatasan dana terkadang negara kita hanya baru bisa membeli alut sistanya saja dengan fasilitas pemeliharaan yang sangat terbatas dan bahkan sampai dengan saat ini kita belum memiiki kemampuan untuk dapat membeli suatu alut sista arhanud yang lengkap dengan Transfer of Tehnology, hanya Transfer of Knowledge saja yang mampu kita rumuskan dalam draft pengadaan alut sista.  Faktor lain yang mempenaruhi adalah belum banyak industri – industri dalam negeri yang memiliki kemampuan untuk membuat suku cadang yang dibutuhkan untuk mengganti kerusakan salah satu sistem yang ada pada alut sista tersebut, dengan kondisi tersebut mau tidak mau kita sangat tergantung pada negara produsen, dan pengalaman pahit yang kita rasakan dari hal tersebut adalah kita harus menunggu dalam waktu yang cukup lama untuk memperoleh salah satu spare part, belum lagi bila kita negara produsen sudah tidak memproduksi lagi spare part tersebut.

 

            Kondisi berikutnya adalah sangat terbatasnya tenaga ahli yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan pemeliharaan alut sista Arhanud yang ada disatuan sehingga terkadang alut sista Arhanud menjadi kurang terpelihara.  Yang dimaksud dengan tenaga ahli pemeliharaan ini adalah personel yang benar – benar memiliki kemampuan khusus untuk mengoperasionalkan dan memelihara alut sista Arhanud. Faktor yang mempengaruhi hal tersebut salah satunya diantaranya adalah sistem pemeliharaan materiil di TNI Angkatan Darat yang hanya mengijinkan satuan melaksanakan pemeliharaan dan perbaikan pada tingkat 0 saja sedangkan untuk pemeliharaan dan perbaikan pada tingkat yang lebih tinggi harus diajukan kepada instansi yang lebih tinggi.  Dengan sistem ini realita yang terjadi adalah pada saat penerimaan alut sista arhanud yang baru tenaga ahli yang nantinya berada di satuan pengguna hanya diberikan transfer of knowledge tata cara pemeliharaan secara terbatas saja, sedangkan tata cara pemeliharaan yang lebih tinggi hanya diberikan kepada tehnisi dari instansi PAL AD.  Secara sistem hal tersebut memang baik akan  tetapi sesungguhnya yang tejadi dialapangan adalah pada saat terjadi kerusakan, materiil alut sista arhanud tersebut harus dikirmkan ke instansi PAL AD tingkat daerah atau PAL AD pusat, akan tetapi pada kenyataannya tehnisi pada instasi PAL AD kini sudah tidak ada lagi karena sudah pindah satuan dan pada akhirnya alut sista arhanud yang mengalami kerusakan dibiarkan tanpa ada perbaikan.  Faktor lain yang juga turut mempengaruhi adalah masih rendahnya tingkat pendidikan bagi SDM prajurit Arhanud, tanpa ada maksud untuk mengeksklusifkan koprs Arhanud akan tetapi kemampuan dan tingkat SDM yang sesuai sangat dibutuhkan oleh korps Arhanud untuk mengawaki alut sista yang menggunakan tehnologi yang cukup komplek.

 

Upaya Pembinaan Materiil Alut Sista Arhanud di Satuan

 

Sebagai negara yang masih tergolong sebagai negara berkembang, kita harus menyadari bahwa negara kita Indonesia memiliki keterbatasan dalam hal anggaran guna menciptakan pertahanan negara yang ideal. Mensikapi hal tersebut Komandan satuan Arhanud harus berupaya untuk mengembangkan upaya kreatif dan onovatif dalam rangka mensiasati permasalahan dan kondisi faktual dalam hal pembinaan materiil khususnya alut sista Arhanud.  Pada bagian ini penulis ingin menyampaikan beberapa ide dan gagasan yang dapat diterapkan oleh Komandan Satuan dalam rangka meningkatkan kegiatan pembinaan materiil khususnya alut sista Arhanud yang ada pada saat ini.

 

Upaya pertama yang dapat dilakukan oleh Komandan satuan Arhanud dalam hal pembinaan alut sista adalah membenahi kembali sistim pengadministrasian seluruh alut   sista Arhanud yang dimiliki pada saat ini, kita harus mengakui bahwa beberapa waktu yang lalu sistim administrasi dari alut sista kita tidak dilaksanakan secara maksimal. Hal ini terlihat dari tidak adanya Log Book  pada masing – masing alut sista, kalaupun ada terkadang pengisiannya tidak dilaksanakan secara teratur.  Log Book  merupakan sistim administrasi utama yang harus dimiliki oleh setiap alut sista, karena dari Log Book inilah kita dapat mengetahui kapan senjata tersebut diterima disatuan, kapan senjata tersebut digunakan untuk latihan ?, Siapa yang mengawaki senjata pada saat latihan ?, kapan senjata tersebut mengalami kerusakan ?, apa penyebab kerusakan ?,  Apakah sudah pernah mengalami kerusakan ?, Apakah sudah pernah dilaksanakan perbaikan ? dan masih banyak lagi pertanyaan yang dapat dijawab apabila pengisian Log Book ini dilaksanakan secara teratur.  Yang terpenting dari Log Book ini adalah kita dapat mengetahui secara persis bagaimana riwayat alut sista secara terperinci,  dengan mengetahui riwayat alut sista secara terperinci maka kita dapat mengambil tindakan yang tepat apabila sewaktu – waktu alut sista tersebut mengalami kerusakan.

 

Upaya kedua adalah melaksanakan pemeliharaan alut sista secara rutin dan teratur.  Alut sista Arhanud sebagian besar merupakan alut sista yang bekerja sebagai suatu sistem, berdasarkan pengalaman penulis pernah menemukan adanya alut sista yang mengalami kerusakan bukan karena sering digunakan akan tetapi karena tidak pernah digunakan, ini memperlihatkan bahwa kegiatan pemeliharaan rutin dan teratur sangat jarang sekali dilaksanakan di satuan.  Kendala yang sering terjadi di satuan adalah banyaknya kegiatan satuan yang bersifat protokoler yang membuat seluruh personel di satuan menjadi berkurang sehingga tindakan pemeliharaan tidak dapat dilaksanakan, guna mengatasi permasalahan tersebut seorang komandan satuan harus jeli untuk memilih beberapa orang dari anggota satuannya untuk tetap tinggal melaksanakan pemeliharaan alut sista yang ada disatuannya tanpa harus mengorbankan tugas lain yang diembannya, karena bila ini tidak dilaksanakan maka pengorbanan yang harus dipikul adalah ketidaksiapan alut sista apabila sewaktu – waktu akan dioperasionalkan.

 

            Upaya ketiga adalah melaksanakan kerjasama dengan Industri Strategis aau Perguruan Tinggi yang ada dalam rangka penelitian dan pengembangan kemampuan alut sista.  Upaya kerjasama ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :

 

            Pertama dengan mengadakan lomba. Peserta lomba dapat berasal dari ahli – ahli yang berasal dari Industri strategis, perguruan tinggi ataupun dari kalangan TNI,  selanjutnya pad peserta lomba dilemparkan permasalahan tentang alut sista yang ada disatuan yang nantinya dari peserta diharapkan dapat membuat sutau kajian dan penelitian yang nantinya bermuara tentang upaya dan solusi yang sesuai tentang bagaimana meningkatkan kemampuan dari alut sista yang ada satuan.  Beberapa hal yang perlu diperhatikan dari pelaksanaan upaya ini adalah diperlukan sistem security yang teliti dan cermat sehingga tidak terjadi kebocoran rahasia satuan yang nantinya malah dapat merugikan satuan itu sendiri.

 

            Kerjasama yang kedua adalah dalam hal peningkatan kemampuan SDM yang ada disatuan dalam hal pemeliharaan, bila kita mau cermati secara lebih sungguh – sungguh sebenarnya banyak sekali ahli – ahli senjata yang dimiliki oleh negeri ini, hal ini terlihat dari pelaksanaan pameran Tehnologi militer yang baru – baru ini dilaksanakan di Kemayoran, banyak sekali defense contractor yang berasal dari kalangan sipil ataupun dari kalangan militer yang sudah pensiun. Dengan demikian Komandan satuan dituntut untuk lebih memperluas jaringan mencari kalangan sipil atau pensiunan yang memiliki keahlian dan kemampuan yang nantinya keahlian dan kemampuan tersebut dapat dipergunakan untuk melatih dan meningkatkan keahlian dari SDM satuan khususnya tentang pemeliharaan materiil alut sista, pelaksanaan pembinaan SDM dapat dilaksanakan melalui penataran atau pendidikan yang dilaksanakan didalam satuan ataupun dengan cara menitipkan SDM dari satuan kita untuk dididik atau dilatih dimana tenaga ahli tersebut bekerja.

 

            Upaya keempat adalah dengan cara melaksanakan kerjasama dengan Depo pemeliharaan alut sista Arhanud yang ada di Karangploso – Batu.  Kerjasama yang dapat dilakukan adalah dengan mengundang dan memberikan kesempatan kepada tenaga – tenaga ahli yang ada di depo pemeliharaan alut sista tersebut untuk mempelajari dan menganalisa beberapa kerusakan yang dialami oleh alut sista yang ada di satuan.  Hal ini sangat memungkinkan untuk dilakukan, ada tiga keuntungan yang diperoleh dari kegiatan ini yaitu pertama bertambahnya pengalaman dari tehnisi dari depo pemeliharaan untuk melaksanakan perbaikan dan pemeliharaan berbagai jenis alut sista arhanud yang dimiliki saat ini, kedua timbulnya inovasi dan kreatifitas sebagai bentuk usaha dalam rangka pemeliharaan dan perbaikan alut sista, ketiga dapat ditularkannya pengalaman yang diperoleh oleh tehnisi ahli depo pemeliharaan tersebut kepada SDM yang kita siapkan untuk melaksanakan pemeliharaan alut sista di satuan.

 

Penutup

           

            Dari uraian yang telah kami sampaikan diatas dapat kita ambil kesimpulan bahwa pelaksanaan pembinaan materiil khususnya alut sista di satuan – satuan Arhanud harus dapat dilaksanakan oleh masing – masing Komandan Satuan Arhanud ditengah berbagai macam keterbatasan baik anggaran maupun dukungan dari komando atas.  Kegiatan pembinaan materiil alut sista yang dilaksanakan secara tertib dan teratur selain dapat meningkatkan kesiapan operasional alut sista juga dapat dipergunakan sebagai latihan kesiapan satuan itu sendiri apabila nanti pada waktunya menerima alut sista baru yang tentunya membutuhkan pemeliharaan yang lebih komplek.  Beberapa upaya dapat dilaksanakan oleh Komandan satuan Arhanud adalah dengan cara penertiban sistim administrasi alut sista ( Sistim Log Book ), Pemeliharaan rutin dan teratur yang harus selalu dilaksanakan, Kerjasama dengan industri strategis atau perguruan tinggi dalam upaya pemecahan permasalahan alut sista serta peningkatan kerjasama dengan Depo pemeliharaan yang dimiliki oleh Pussenarhanud.

 

Demikian tulisan ini dibuat, semoga bermanfaat dan dapat memberikan sumbang saran dalam bagi para Komandan Satuan Arhanud dalam hal pembinaan materiil dan alut sista Arhanud disatuan.


 

ARTIKEL LAINNYA

     -  Army Leadership
     -  DEPARTEMEN SISTIM SENJATA PUSDIKARHANUD
     -  DEPARTEMEN TAKTIK DAN STAF PUSDIKARHANUD
     -  MENDESAINSISTEM KENDALI TEMBAK MERIAM 57 MM S 60 T. AKT MENGGUNAKAN SURVEILANCE RADAR RAPIER UNTUK M
     -  MENDESAINSISTEM KENDALI TEMBAK MERIAM 57 MM S 60 T. AKT MENGGUNAKAN SURVEILANCE RADAR RAPIER UNTUK M
     -  LAPORAN PENDIDIKAN S-2 JURUSAN MANAJEMEN PERTAHANAN DI UNIVERSITAS PERTAHANAN INDONESIA TA 2011-2013
     -  PAT TILLMAN dan PAK DIRMAN (serta Mak Eroh)
     -  Karangan Militer
     -  9 LANGKAH MENUJU SIKAP MENTAL POSITIF
     -  MALAIKAT KECILKU
     -  IT , INOVASI BAGI DUNIA PENDIDIKAN
     -  UNTUK MU TUHANKU
     -  MENGUKUR TINGKAT KEMATANGAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK INSTITUSI PENDIDIKAN




 

KOMANDAN KODIKLAT TNI AD

Letjen TNI Agus Kriswanto


English Corner

Battle of Goose Green

The Use of Air Defense Weapon System

Culture Of Indonesia:As a Consideration in Company Level Operation


Link Kodiklat


Statistik


  Visitors :786284 Org
  Today : 234 Users
  Month : 1621 Users
  Online : 3 Users
  Hits : 1948112 hits


Gallery



fitnes


 
Copyright © 2010   Pusdikarhanud.mil.id - Pusdikarhanud . Design by e.web.id