Kamis , 20 Jul 2017

 

KOMANDAN PUSDIKARHANUD

 

 

 

 

 

 

 

Kolonel Arh Rikas Hidayatullah


PUSDIKARHANUD

Pusdikarhanud PO BOX 59 Malang Jawa Timur Indonesia Tlp. (0341)461577

email redaksi  p[email protected] atau [email protected]

Contact Us


Profil Satuan


Info

Info Pendidikan

Jadwal Piket Admin

Kode Mata Kuliah

Transformasi Spiritual


 


DEPARTEMEN SISTIM SENJATA PUSDIKARHANUD

TARGET DRONE 

BUKAN HANYA SEKEDAR SASARAN TEMBAK

 

 

PENDAHULUAN

UAV (Unmanned Aerial Vehicle)atauyang dikenal juga dengan namaDRONE” dan sudah di-Indonesiakan menjadi pesawat nirawak atau pesawat tanpa awak merupakan bagian dari perkembangan kemajuan teknologi yang memanfaatkan wahana udara.Drone sudah menjadi prioritas pengembangan alut sista bagi banyak angkatan bersenjata dunia, karena kemampuan dalam melaksanakan berbagai macam misi baik yang bersifat surveilancemaupun attack juga sudah tidak diragukan, belum lagi bila melihat kecilnya cost serta minimnya casualities of war. Perkembangan kemajuan tehnologi kedirgantaraan, telah mendorong berbagai pabrikan dunia untuk meneliti, mengembangkan dan memproduksi Drone yang pada awalnya hanya dikendalikan dengan menggunakan radio remote controldan mengandalkan sumber tenaga Baterai Lithium, meningkat menjadi mesin berbahan bakar premium atau avigas dan bahkan sampai dengan menggunakan hidrogen, solar cell hingga tenaga nuklir yang dilengkapi dengan berbagai kemampuan pendukung sesuai dengan spesifikasi tugas yang dibutuhkan.

Bagi Korps Arhanud TNI AD Drone bukanlah barang yang baru, Drone sudah menjadi bagian dari komponen alutsista Rudal Rapier pada saat  di era tahun 1980-an.  Pada waktu itu,Drone yang dioperasionalkan berasal dari sebuah pabrikan  dengan nama Banshee. Dalam pelaksanaan latihan menembak basah, Drone Banshee dipra- anggapkan sebagai pesawat musuh yang sedang bermanuver menyerang sasaran obyek vital.  Guna menjamin realisme latihan, pada saaat Drone mendekati obyek vital selanjutnya dihancurkan oleh Rudal Rapier yang dilepaskan dan dikendalikan oleh awak penembak Rudal Rapier. Sesuai peruntukannya, karena Drone Banshee tersebut digunakan sebagai sasaran tembak dalam rangka mendukung latihan menembak maka selanjutnya Drone tersebut lebih dikenal dengan istilah Target Drone.

            Mencermati perkembangan tehnologi Drone didunia dan dikaitkan dengan tuntutan kebutuhan serta Drone yang dimiliki oleh TNI AD khususnya Korps Arhanud yang biasa disebut Target Drone, ada beberapa permasalahan yang bisa diidentifikasi guna dicarikan solusi pengembangan kedepan, yaitu :

1.         Apakah Target Drone yang dioperasikan oleh Korps Arhanud hanya digunakan sebatas sebagai sasaran/target saja atau dapat dikembangkan untuk mendukung kemampuan air defence alut sista yang sudah dimiliki Korps Arhanud saat ini ?

2.         Bila memang mampu untuk dikembangkan, kemampuan apa saja yang bisa ditingkatkan guna menjamin efektifitas pertahanan udara ?

            Guna menjawab permasalahantersebut maka Pusdikarhanud menganggap perlu membentuk suatu kelompok kecil untuk melakukan pembahasan dimana hasil pembahasan tersebut dituangkan dalam tulisan ini, dengan harapan tulisan ini nantinya akan dapat memberikan sumbang saran dan masukan bagi kemajuan Korps Arhanud khususnya dalam meningkatkan kemampuan dan daya tempur serta efektifitas perlindungan wilayah udara nasional, dalam kerangka pencapaian keberhasilan pelaksanaan tugas pokok TNI AD.  Untuk memudahkan pemahaman, tulisan ini dibuat dalam bentuk essay yang dibuat dan disusun secara terstruktur yang diawali dengan penggambaran singkat tentang perkembangan UAV/Drone yang ada di dunia saat ini, Drone khususnya Target Drone yang dioperasionalkan oleh satuan Arhanud dan pembahasan pokok permasalahan tentang bagaimana mengembangkan Target Drone yang telah kita miliki saat ini agar memiliki kemampuan yang jauh lebih baik ditinjau dari kemampuan operasional maupun kemampuan tugas yang dapat diselesaikan.

 

PEMBAHASAN

Perkembangan Target Drone dan UAV/Drone.

Membahas pesawat nirawak ini sesungguhnya bukanlah barang baru, sebagaimana dapat kita baca dalam berbagai referensi bahwa pada awalnya pesawat tak berawak ini hanya digunakan sebagai sasaran tembak atau target saja, dan hal ini sudah mulai digunakan semenjak tahun 1953.Negara yang paling banyak mengembangkan Target Drone adalah Amerika di era perang dingin melawan Soviet, adapun beberapa jenis Target Drone yang dikembangkan oleh Amerika pada saat itu adalah:

            XQ–4.Target Drone jenis XQ–4 ini pada mulanya berawal dari pengembangan target model RP-61 yang pada saat itu tahun 1952 yang dilakukan oleh Northrop. Target Drone ini pada saat itu sudah digolongkan pada Target Drone dengan jenis supersonik Target Drone. XQ–4 memiliki kemampuan untuk diluncurkan baik dari darat maupun dari udara, yang selanjutnya digunakan oleh US Air Forceuntuk berbagai macam kepentingan diantaranya adalah sebagai target rudal darat - udara maupun rudal udara - udara. XQ–4 yang akhirnya berubah nama menjadi Q–4 adalah Target Drone yang dalam pengendaliannya menggunakan kendali Radar untuk kendali penerbangan serta seluruh flight command dikirimkan menggunakan radiotelemetry system. Setelah selesai dioperasionalkan maka pada saat pendaratan, DroneQ-4 akan mengembakan tiga pasarasut dan 4 airbag guna mengurangi benturan pada saat jatuh. Selain sebagai sasaran udara Q-4 juga dapat dilengkapi dengan peralatan TV dan kamera yang dapat digunakan untuk pengintaian.

            MQM-42. MQM-42 adalah Drone Amerika yang berada pada kategori high altitude supersonic dibuat oleh North American Aviation.  Pertama kali digunakan oleh US Army sebagai sasaran target untuk rudal pertahanan udara MIM-23 Hawk. Ada 2 jenis Target Drone ini, yang pertama adalah The Redheadsebagai varian yang digunakan untuk sasaran tembak pada high altitude dan The Roadrunner yang digunakan pada low altitudeMQM-42 diterbangkan dengan menggunaka sistim roket solid – propellant booster.  Mesin yang digunakan oleh MQM-42 ini adalah Marquan MA-74 ramjet.

MQM-107 Streaker. Target Drone ini adalah pengembangan dari MQM-42, yang digunakan oleh US Army sebagai sasaran tembak rudal darat – udara FIM-92 Stinger dan MIM-104 Patriot, sedangkan US Air Force menggunakannyasebagai  sasaran tembak untuk melatih pilot – pilotnya pada saat serangan menggunakan rudal udara – udara AIM-9 Sidewinder dan AIM-120 AMRAAM. 

            RQ-2B Pioneer. Pesawat tanpa awak ini adalah hasil kolaborasi antara AAI Amerika dan Israel AircraftIndustries. Pesawat ini telah dipergunakan oleh U.S. Marine Corps, U.S. Navy dan U.S. Army sejak 1986. Pioneer bertugas melakukan pengintaian, pengawasan, pencarian target, dan mendukung penembakan angkatan laut baik pada siang hari maupun malam hari. Pesawat ini dapat diluncurkan dari kapal dengan bantuan dorongan roket atau diluncurkan dari darat dengan bantuan ketapel. Dengan panjang badan 14 kaki dan rentang sayap 17 kaki, Pioneer dapat terbang hingga ketinggian 15,000 kaki selama lima jam. Pioneer dapat mengangkut beban hingga 37 Kg dan dapat dilengkapi dengan sensor optic atau infrared dan alat pendeteksi ranjau.

MQ-9 Reaper. Reaper adalah pesawat multi fungsi tanpa awak yang dikembangkan untuk menjadi mesin penghancur. Dalam operasi militer Amerika di Afghanistan dan Irak, MQ-9 dilengkapi dengan rudal AGM-114 Hellfire dan dipergunakan untuk memburu dan menghancurkan target. Pesawat ini dapat mengangkut beban hingga lima ton, berkecapatan 230 mil per jam pada ketinggian 50,000 kaki dan dapat terbang sejauh 3,682 mil. Pesawat ini dilengkapi dengan IR targeting sensor, laser rangefinder dan synthetic aperture radar. MQ-9 dapat dibongkar pasang dan diangkut ke berbagai lokasi dengan mudah.

Global HawkGlobal Hawk adalah pesawat tanpa awak yang terbesar di dunia saat ini. RQ-4 Global Hawk adalah pesawat tanpa awak pertama yang memperoleh sertifikasi dari FAA (badan penerbangan Amerika) untuk terbang dan mendarat di bandara sipil secara otomatis. Karena keunggulannya ini, Global Hawkdiharapkan dapat menjadi perintis pesawat penumpang dengan pilot otomatis dimasa mendatang. Pada saat pengujian, Global Hawk mampu terbang dari Amerika Serikat menuju Australia pulang pergi dengan membawa sejulah alat pengintai. Untuk keperluan militer, pesawat ini dapat dipergunakan untuk melakukan pengintaian, pengawasan dan survei intelejen pada daerah yang luas dan dalam jangka waktu yang lama.

Target Drone satuan Arhanud TNI AD.   

Target Drone sesungguhnya bukanlah barang baru bagi satuan Arhanud TNI AD, pada masa pengadaan alutsista Rudal Rapier negara Inggris sebagai negara penjual Rudal Rapier telah melengkapi pembelian paket Rudal Rapier dengan Target Drone yang lebih kita kenal dengan sebutan Banshee. Banshee menggunakan tipe mesin WAE 342 dengan  volume silinder 342 cc yang mampu menghasilkan tenaga 26 HP.  Banshee mampu terbang dengan kecepatan Max 370 km/jam dan mampu membawa beban relatif berat + 43 kg dan didukung dengan sayap delta sehingga mampu bermanuver tinggi. Dengan fasilitas tangki 14 liter maka Banshee  memiliki kemampuan durasi terbang lebih lama ( 90 menit ). Banshee juga dilengkapi dengan Miss Distance Indicator ( MDI ) yang  berfungsi untuk melihat atau mengukur akurasi perkenaan target terhadap missile / proyektil. Adapun kelemahan dari Banshee adalah belum dilengkapi dengan Sistim kontrol menggunakan Integrated GPS, Autonomous Way PointNavigation, digital telemetry system(masih manual).

            Target Drone lain yang dimiliki oleh satuan Arhanud adalah jenis ShortTarget Drone (STD) dan LongTarget Drone (LTD).  STD adalah Target Drone pengadaan PT Muhibah yang digunakan oleh satuan Arhanud dalam pelaksanaan latihan menembak senjata berat. Sistem operasional dari Target Drone STD masih menggunakan radio remote control yang mengandalkan kemampuan visual operator. Dalam perkembangan berikutnya PT Muhibah memproduksi jenis LTD yang menggunakan sistem kontrol Integrated GPS, Autonomous Way Point Navigation dan digital telemetry sistem, sehingga LTD  dapat terbang secara otomatis / autopilot sesuai ploting way point yang telah ditentukan. Disatu sisi, Target Drone ini memiliki keunggulan lebih mudah dioperasionalkan, tetapi disisi lain LTD ini masih memliki banyak sekali kelemahan yaitu mesin yang digunakan adalah  3 Way Twin Silinder   157 cc / 18 HPsilinderyang hanya mampu terbang dengan kecepatan max 250  km/jam dan beban yang bisa di bawa relatif ringan serta manuver kurang lincah. Fasilitas tangki BBM hanya 5 liter sehingga waktu terbang hanya terbatas sekitar 15 menit, selain itu LTD tidak dilengkapi dengan MDI

            Perbandingan antara Banshe dengan LTD dapat kita lihat pada kolom sebagai berikut :

NO

KARAKTERISTIK

BANSHEE

LTD

KET

1

2

3

4

5

A. PYSHICAL

 

 

 

1

Wing span

2.49 m

3.0 m

 

 

Length

2.85 – 2.95 m

3.0 m

 

 

Height

0.86 m

0,77 m

 

 

Wing area

2.42 m2

-

 

 

 

 

 

 

B. PERFOMANCE

 

 

 

1

Speed range

165 – 370 km/jam

250 km / jam

 

 

Launch  speed

32 m/s

-

 

 

Operating range

100 km

-

 

 

Endurance

90 menit

60 menit

 

 

Max altitude

7000 m

-

 

 

Min altitude

5 m

5 m

 

 

Recovery

Parachute

Parachute

 

 

Tanki bbm

14 Liter

5 Liter

 

 

Mesin

- WAE 342 / 2 TAK

Twin Silinder

- 342 cc / 26 HP

- 3 Way Twin Silinder 

- 157 cc / 18 HP

 

 

Sayap

Delta

Standar

 

 

 

 

 

 

C. OTHER FEATURES

 

 

 

 

Stabilisation

MDS CASPA  Avionics with gyro Stabilizer

Digital auto Pilot

 

 

Tracking & telemetry

Radar Transponder

GPS. Way Point Navigation & digital telemetry system

 

 

Typical payloads

- Up to 16 Smoke tracking flare

- Up to 16 IR tracking Flare

- Hot Nose black body IR Source

- IR & chaff decoy dispensing pods

- IFF Transponder

- Radar Altimeter, Sea Skimming Module

- Acoustic & Dopler Radar MDI

- Up to 4 Smoke tracking flare

 

 

 

            Apakah Target Drone hanya Sebatas Sasaran Tembak ?.  Setelah melihat beberapa jenis UAV/Dronedan Target Drone yang ada didunia sebagaimana telah dijelaskan diatas, guna menjawab apakah Target Drone yang kita miliki hanya sebatas kita gunakan untuk sasaran tembak saja ? tentunya sangat naif bila kita berikan jawab YA,  karena sesungguhnya bila kita hanya menggunakan Drone yang kita miliki untuk sekedar sasaran tembak tentunya hal tersebut adalah perbuatan yang sangat mubazir apabila kita kaitkan dengan tuntutan kebutuhan alut sista Arhanud dan kemampuan anak bangsa untuk mengembangkan Drone di masa datang.  Kemudian bila kita menjawab TIDAK, maka dengan melihat kemampuan Drone yangsaat ini hanya dijadikan target udara saja, apalagi yang perlu untuk dikembangkan sehingga Drone kita saaat ini memiliki spesifikasi sesuai dengan tuntutan kebutuhan serta mengimbangi hakekat ancaman serangan wahana udara dimasa mendatang.

            Membahas tentang kemampuan Target Drone yang bisa dikembangkan, maka tulisan ini dibagi dalam 2 bagian yaitu 1. pengembangan kemampuan standar yang harus dimiliki oleh Drone sebagai target tembakan meriam atau rudal dan 2. Pengembangan Drone sebagai alat pendukung pertahanan udara.

 

            Pengembangan kemampuan Drone sebagai Target Drone. Agar Target Drone dapat digunakan sebagai sasaran tembak yang optimal maka ada beberapa hal dasar yang harus dikembangkan oleh Target Droneyaitu :

1.         Mampu diluncurkan dari areal yang sempit atau terbatas.  Sebagaimana kita ketahui bahwa berbeda dengan negara – negara yang sudah maju khususnya dalam senjata pertahanan udara, maka sebagian besar areal latihan penembakan meriam ataupun rudal mereka telah dipersiapkan sedemikian rupa dan terdapat areal yang cukup untuk lepas landas Target Drone, akan tetapi secara realita guna mendukung latihan menembak senjata berat maupun rudal Arhanud kita belum memiliki lapangan tembak senjata berat dengan fasilitas peluncuran Target Drone, belum lagi bila dikaitkan dengan Target Drone yang dimiliki oleh Arhanud TNI AD saat ini yaitu jenis STD dan LTD yang diluncurkan dengan menggunakan daya dorong angin yang dimampatkan. Resiko dari system peluncur seperti ini adalah, ketika tekanan angin tidak maksimal maka kecepatan awal (Vo) luncuran Target Drone tidak mampu menahan gaya gravitasi bumi sehingga sulit dikendalikan dan cenderung terjadi kegagalan dalam penerbangan.Untuk mengatasi permasalahan ini, perlu dirancang dan dikembangkan sistem peluncur yang menggunakan peluncur roket atau jet, sehingga pelaksanaan take off Target Drone jauh lebih sempurna.

2.         Mampu terbang dalam waktu yang cukup lama.Salah satu kelemahan yang ditemukan pada Target Drone yang kita miliki pada saat ini adalah waktu terbang yang relatif pendek, akibatnya adalah penembakan yang dilakukan oleh meriam ataupun peluru kendali harus dilaksanakan dengan jeda waktu, hal ini tentunya akan mengurangi realisme latihan yang sesungguhnya dimana dalam melaksanakan pertahanan udara waktu yang dilakukan untuk melaksanakan penembakan sasaran udara bukan dilaksanakan dalam waktu yang sebentar karena ancaman serangan udara pada umumnya terjadi secara bergelombang dengan waktu yang cukup panjang.  Selain itu sasaran udara yang harus dihadapi secara riil bukan hanya satu buah ataupun satu jenis saja akan tetapi terdiri dari satu paket serangan udara yang bisa mencapai 28 sd 32 pesawat udara.  Untuk mengatasi permasalahan ini maka kemampuan yang harus dikembangkan dari Target Drone adalah menambah volume bahan bakar dan menggunakan mesin yang hemat bahan bakar sehingga memiliki waktu terbang yang cukup lama.  Dengan demikian, praanggapan menghadapi serangan udara secara bergelombang dapat dilaksanakan dan realisme latihan dapat dijaga.

3.         Mampu terbang dengan ketinggian jelajah yang sesuai dengan kemampuan rudal yang kita miliki atau bahkan lebih.Mengapa hal ini diangkat menjadi salah satu persyaratan dalam pengembangan Target Drone yang kita miliki saat ini, tidak lain karena pada setiap latihan menembak yang dilakukan oleh satuan arhanud padasaat ini Target Drone yang diterbangkan untuk jarak maupun ketinggian masih sangat jauh dari kondisi nyata kemampuan pesawat terbang yang sesungguhnya, maupun kemampuan dari alutsista meriam dan rudal yang kita miliki.  Target Drone yang kita miliki saat ini rata – rata hanya mampu terbang pada jarak dan ketinggian maksimal ± 1000 m. Bila dikaitkan dengan taktik serangan udara, maka pesawat udara sudah mampu melepaskan bom dan peluru kendali pada jarak± 3000 meterdari obyek vital. Oleh karena itu, apabila ingin mendapatkan realisme latihan sebaiknya kemampuan terbang Target Drone diharapkan mampu mencapai jarak yang mendekati kondisi yang sebenarnya.

4.         Mampu terbang secara autopilot.  Setelah padapoin 3 sebelumnya dijelaskan bahwa Target Drone harus dapat diterbangkan pada jarak dan ketinggian jelajah yang sesuai dengan rudal yang kita miliki, maka untuk mendukung kemampuan tersebut Target Drone harus dapat diterbangkan secara autopilot dimana pada saat Target Drone diluncurkan maka secara otomatis kendali penerbangan langsung mengikuti perintah – perintah yang telah dimasukkan / diprogram terlebih pada perangkat komputer kendali penerbangan.  Hal ini menjadi suatu keharusan karena manakala dipaksakan untuk diterbangkan dengan menggunakan visual operator (manual) maka pada jarak diatas 1000 m akan mengalami kesulitan. Dengan menggunakan GPSwaypoint system (auto pilot)yang sebenarnya sudah dimiliki oleh Target Dronejenis LTD, namun demikian untuk lebih menjamin akurasi lintasan terbang dan keselarasan perpindahan kendali autopilot ke kendali manual masih perlu dilakukan peningkatan.

5.         Memiliki sistem operasional yang terintegrasi.  Untuk menjamin sistem operasional yang terintegrasi maka pengendalian Target Drone harus dilakukan didalam satu unit mobil komando Target Drone Mobil Command (TDMC). TMC ini berupa sebuah mobil komando yang dirancang khusus dan dilengkapi perangkat yang mampu mengendalikan dan mengoperasionalkan Target Dronediterbangkan dari dalam mobil melalui layar monitor yang sudah terintegrasi dengan jaringan satelit dan radar yang sudah dipasang di Target Drone.TDMC ini juga dilengkapi dengan alat komunikasi ke satuan tembak (Satbak) sehingga dapat mengakomodasi arah serangan dan lintasan Target Drone sesuai kebutuhan awak satbak.

 

 

6.         Dilengkapi dengan Miss Distance Indicator (MDI).MDI adalah salah kelengkapan wajib apabila kita ingin mengembangkan Target Drone yang kita miliki.  Mengapa MDI menjadi kelengkapan wajib ? apabila Target Drone yang kita terbangkan berada pada jarak dan ketinggian jelajah yang cukup jauh dan tinggi maka secara visual akan kesulitan dalam melaksanakan pendeteksian setelah penembakan.  Bila proyektil meriam atau rudal yang ditembakkan tidak dapat mengenai Target Drone secara direct hit maka apabila Target Drone dilengkapi MDI hal tersebut tetap dapat dikoreksi perkenaannya, dan tentunya kita juga dapat menghilangkan anggapan salah dari sebagian orang pada saat ini bahwa apabila Target Drone tidak dapat dihancurkan secara telak itu artinya senjata yang kita miliki tidak akurat.

7.         Dilengkapi Dengan Peralatan Perang Elektronika.  Yang dimaksud dengan kemampuan perang udara yang harus dimiliki oleh Target Drone pada saat ini adalah kemampuan dalam hal Electronic Counter Measure (ECM), serta kemampuan untuk meluncurkan chaffdan flare.  Dengan adanya ketiga instrumen ini maka Target Drone akan benar – benar menyerupai pesawat udara musuh yang mendekati riil.  ApabilaTarget Drone meluncurkan chaff dan flare maka kita akan dapat mengetahui sehandal mana rudal yang kita miliki mampu mengejar panas pesawat musuh tanpa terhalang dan dibelokkan oleh chaff ataupun flare, bila memang rudal kita kemampuannya kurang maka hal tersebut dapat digunakan sebagai bahan masukan bagitim litbang untuk meneliti lebih lanjut tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan rudal.  Hal lain yang dapat dilakukan apabila Target Dronedibekali dengan kemampuan ECM, maka kemampuan tersebut dapat digunakan untuk melatih awak radar apabila harus menghadapi pesawat yang pada perkembangannya pada saat ini hampir seluruhnya sudah pasti dilengkapi dengan peralatan ECM untuk mengecoh radar musuh.

 

 Pengembangan Kemampuan Target Drone Sebagai Air Defense.

Pada bagian ini akan dibahas beberapa wacana kedepan, bagaimana kita dapat mengembangkan Drone yang semula hanya sebagai sasaran tembak atau Target Drone saja untuk dikembangkan menjadi bagian dalam alut sista sistem pertahanan udara, sehingga pada operasi pertahanan udara yang sesungguhnya dapat digunakan sebagai penguat pertahanan udara.  Dengan demikian kekuatan pertahanan udara yang kita miliki akan semakin kuat dan mampu menangkal setiap bentuk hakekat ancaman serangan udara lawan.  Adapun ide tersebut adalah mengembangkan Target Drone menjadi Drone yang meliputi :

1.         Memiliki kemampuan deteksi dan surveilance radar.  Sebagaimana kita ketahui bahwa radar yang dimiliki oleh satuan Arhanud pada saat ini banyak sekali yangsudah mengalami kendala baik dalam operasional maupun keterbatasan dalam jarak jangkau.  Pada saat radar beroperasi tidak jarang radar mengalami keterbatasan khususnyabila dikaitkan dengan kondisi geografis Negara kita  yang memiliki begitu banyak dataran tinggi berupa pegunungan.  Pancaran gelombang radar terhalang oleh pegunungan tersebut, sebagai akibatnya pesawat musuh apapun bentuknya maupun peluru kendali darat ke darat musuh hampir seluruhnya mengikuti kontur bentuk bumi pada saat terbang menuju ke sasasaan dengan cara terbang rendah dan kemudian muncul secara tiba – tiba untuk menghancurkan sasaran, belum lagi halangan – halangan lain yang dapat digambarkan sebagai berikut :

 

Guna mengelimir hal tersebut kita dapat menerbangkan Drone yang tadinya hanya berfungsi sebagai Target Drone saja, tetapi kitalengkapi dengan perlengkapan bagaimana layaknya sebuah radar dengan demikianTarget Droneberubah fungsi fungsi menjadi radar terbang dengan coverage area yang lebih luas, jauh dan tidak terhalang berbagai macam cluster karena berada pada ketinggian yang lebih tinggi.  Dengan demikianDrone tersebut dapat berfungsi sebagaI DroneEarly Warning and Control System

 

Akan tetapi sekali lagi yang perlu diperhatikan adalah Drone tersebut juga harus tetap dilengkapi dengan peralatan Electronic Counter Counter Measure (ECCM) untuk melawan ECM musuh dan self defense seperti rudal udara – udara.

2.         Memiliki kemampuan untuk mengikuti dan mengunci sasaran.  Bila tadi sudah dijelaskan bahwa dron hanya memiliki kemampuan untuk deteksi saja, maka akan menjadi lebih baik lagi bila Drone tersebut setelah mencari sararan mampu untuk melaksanakan tracking dan locking target.  Setelah Drone menangkap sasaran maka langkah selanjutnya drone tersebut akan locking target dan selanjutnya data tersebut dikirm ke MTC untuk diinformasikan ke Satbak yang akan melakukan proses tracking dan destruction. Dengan demikian pada tataran operasi yang lebih besar maka daya tembak meriam atau Rudal arhanud juga akan semakin besar dengan akurasi perkenaan yang semakin baik, karena didukung early warning system yang baik dan terintegrasi.  Selain itu, satbak Arhanud dapat mempercepat proses penghancuran baik pesawat ataupun peluru kendali musuh jauh sebelum pesawat atau peluru kendali musuh tersebut memasuki weapon release line (WRL). Pada hubungan yang lebih besar, yaitu saat Operasi Gabungan maka Drone yang memiliki kemampuan deteksi dan Identifikasi sasaran tadi, tidak hanya dapat menjadi guidance peluru kendali satuan pertahanan udara darat saja tetapi juga dapat digunakan untuk menuntun peluru kendali pesawat TNI-AU maupun peluru kendali yang diluncurkan dari kapal laut. Disinilah letak keunggulan Drone satuan Arhanud yang mampu melakukan interoperability dengan matra lain pada saat pelaksanaan Operasi gabungan.

Man Behind The Gun.   Dari beberapa ide dan penjelasan yang telah dibahas diatas khususnya tentang pengembangan Target Drone yang dimiliki oleh satuan Arhanud pada saat ini, ada satu hal penting yang perlu juga disiapkan dan bila perlu sedini mungkin sebelum semua ide tentang pengembangan Target Drone tersebut terwujud adalah tentang pengembangan SDM yang nantinya akan mengoperasionalkan dan mengawaki Target Drone yang kita miliki. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya gapyang dapat mempengaruhi keberhasilan pencapaian tugas pokok.

            Untuk menjamin tersedianya tenaga ahli yang mampu mengoperasionalkan Drone dan Target Drone dengan baik, maka dalam setiap pengadaan Drone harus dilengkapi dengan paket  Transfer Of Tehnologi (TOT) dari Negara produsen kepada TNI AD.   Bahkan apabila memungkinkan, perlu dipikirkan untuk mengembangkan industri strategis dalam negeri yang mampu mendukung pengadaan Drone dengan cara melakukan kerjasama dengan negara yang lebih maju dan membuat rancang bangun Drone atau Target Drone yang disesuaikan dengan kondisi Geografis dan karakteristik wilayah Indonesia serta kepentingan tugas satuan Arhanud.

 

PENUTUP

Dari uraian pembahasan yang sudah dijelaskan diatas dapat diambil kesimpulan, bahwa Target Drone yang merupakan bagian dari sistem senjata pertahanan udara yang saat ini dimiliki TNI AD, sudah tidak sesuai dengan perkembangan teknologi dalam menghadapi perkembangan hakekat perkembangan ancaman serangan udara lawan yang semakin dinamis berkembang.  Agar dapat mengimbangi tuntutan kebutuhan, maka perlu dibuat rancang bangun Target Drone yang dapat menjadi Drone yang dilengkapi dengan berbagai tugas taktis yang mampu menyediakan data sasaran dan dapat menjadi guidance untuk Rudal surface to air maupun air to air. Selain itu, untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan tugas maka rancang bangun Drone yang baru harus dilengkapi dengan berbagai fasilitas dan alat kendali taktis yang mampu dioperasionalkan dan memiliki mobilitas yang tinggi.

Demikian essay singkatsebagai bahan kajian guna membangun kekuatan Korp Arhanud dalam melaksanakan tugas pokoknya mengawal wilayah udara nasional.

                                                                                                        Departemen Sistim Senjata

                                                                                                     Pusdikarhanud Pussenarhanud 


 

ARTIKEL LAINNYA

     -  Army Leadership
     -  Essy
     -  DEPARTEMEN TAKTIK DAN STAF PUSDIKARHANUD
     -  MENDESAINSISTEM KENDALI TEMBAK MERIAM 57 MM S 60 T. AKT MENGGUNAKAN SURVEILANCE RADAR RAPIER UNTUK M
     -  MENDESAINSISTEM KENDALI TEMBAK MERIAM 57 MM S 60 T. AKT MENGGUNAKAN SURVEILANCE RADAR RAPIER UNTUK M
     -  LAPORAN PENDIDIKAN S-2 JURUSAN MANAJEMEN PERTAHANAN DI UNIVERSITAS PERTAHANAN INDONESIA TA 2011-2013
     -  PAT TILLMAN dan PAK DIRMAN (serta Mak Eroh)
     -  Karangan Militer
     -  9 LANGKAH MENUJU SIKAP MENTAL POSITIF
     -  MALAIKAT KECILKU
     -  IT , INOVASI BAGI DUNIA PENDIDIKAN
     -  UNTUK MU TUHANKU
     -  MENGUKUR TINGKAT KEMATANGAN PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK INSTITUSI PENDIDIKAN




 

KOMANDAN KODIKLAT TNI AD

Letjen TNI Agus Kriswanto


English Corner

Battle of Goose Green

The Use of Air Defense Weapon System

Culture Of Indonesia:As a Consideration in Company Level Operation


Link Kodiklat


Statistik


  Visitors :679346 Org
  Today : 181 Users
  Month : 1954 Users
  Online : 2 Users
  Hits : 1797454 hits


Gallery



penghijauan


 
Copyright © 2010   Pusdikarhanud.mil.id - Pusdikarhanud . Design by e.web.id